prajurit-tni-alami-kebutaan-kini-jadi-atlet-nasional-paralimpik-kisahnya-bikin-haru

Prajurit TNI Alami Kebutaan Kini Jadi Atlet Nasional Paralimpik, Kisahnya Bikin Haru

Merdeka.com – Hidup memang tak selamanya berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Ada banyak hal di luar keinginan yang terjadi dan menimpa kita. Bahkan, tak jarang, kondisi-kondisi sulit sering kali membuat kita merasa hidup tidak adil.

Mungkin, seperti itulah yang dialami oleh Prada Gilang Al Fajar. Ia merupakan seorang prajurit TNI di Sumatra Utara (Sumut) yang mengalami kebutaan akibat bencana erupsi Gunung Sinabung saat bertugas merelokasi perumahan pengungsi.

Baca Juga : Eva Kasim, Penyandang Disabilitas Pertama di Indonesia yang Jabat Eselon 2

Namun, Gilang ternyata menyimpan semangat besar yang kini mengantarkannya menjadi salah satu atlet nasional paralimpik. Gilang tergabung di National Paralympic Commite (NPC) Sumut. Kisah semangatnya ini diunggah di Youtube Karya Tv Indonesia dan telah ditonton sebanyak lebih dari satu juta kali.

Sumber: Youtube Karya Tv Indonesia ©2020 Merdeka.com
Sumber: Youtube Karya Tv Indonesia ©2020 Merdeka.com

Semua bermula saat Gilang mendapat tugas dari Satuan Tugas melalui perintah Presiden ke Panglima TNI. Saat itu Ia bersama prajurit lainnya diutus ke Sinabung untuk membantu membuat perumahan pengungsi Gunung Sinabung pasca erupsi.

Kala itu, Ia sedang material ke atas puncak dan berada di atas mobil menghadap ke depan. Pada saat bersamaan, keluar debu vulkanik yang besar langsung menghantam badan dan wajahnya. Sehingga debu-debu vulkanik tersebut mengenai mata.

Ia merasakan matanya perih, tetapi karena tidak ada air Ia tidak bisa langsung membersihkan matanya. Setelah Ia bersihkan, rasa perih itu tidak hilang.

Divonis Tak Bisa Melihat

Sumber: Youtube Karya Tv Indonesia ©2020 Merdeka.com

Fatalnya, saat itu Gilang juga menghirup terlalu banyak debu vulkanik yang menyebabkan tenggorokan dan dadanya terasa panas. Tetapi, Ia tetap melanjutkan tugasnya.

Setelah itu, Ia mengalami demam yang parah sehingga harus dibawa ke rumah sakit di Kota Medan dan dirawat beberapa hari, hingga sempat tidak sadarkan diri.

Saat sadar, Gilang sudah tak bisa melihat dan sempat lumpuh sementara. Dengan kondisi mata yang parah, dokter memvonis bahwa Gilang tak akan bisa lagi melihat secara permanen.

“Kondisi ini, kondisi yang sangat sangat sulit, boleh dibilang merupakan akhir dari penglihatan Pak Gilang,” ujar dokter yang menangani Gilang.

Sumber: Youtube Karya Tv Indonesia ©2020 Merdeka.com

Tak lama, Gilang mendapatkan seorang kenalan dari sang ibu yang menawarkannya untuk bergabung dengan National Paralympic Commite (NPC) Sumatra Utara.

Atas tekad kuatnya untuk bangkit dan membuat orangtuanya bangga, Ia akhirnya bergabung dan memulai karier baru di dunia atlet paralimpik ini.

Tekad yang Sangat Kuat

Sumber: Youtube Karya Tv Indonesia ©2020 Merdeka.com

Meski terbilang baru di dunia olahraga, Gilang sangat teguh dan telaten dalam melakoni rutinitas barunya. Ia kini menjadi salah satu atlet nasional paralimpik di cabang olahraga tolak peluru dan lempar lembing.

Bahkan, pada tahun 2019 lalu Ia berhasil meraih prestasi juara 2 pada kegiatan Pekan Paralympic Provinsi Sumut. Ia bermimpi bisa meraih medali dan kini terus berlatih untuk mempersiapkan kejuaraan yang akan datang.

Dukungan dari Orangtua Jadi Sumber Semangatnya
Kondisi yang Ia miliki saat ini sempat membuatnya sedih. Tetapi, dukungan penuh dari orangtua menjadi semangat utama baginya untuk cepat bangkit dari keadaan.

Orangtua menjadi alasan utama baginya untuk terus semangat melanjutkan hidup dan mengukir prestasi. Ia juga memiliki mimpi bisa memberangkatkan haji kedua orangtuanya.

Reporter : Fatimah Rahmawati
Sumber : Merdeka.com

Bagikan Ke :
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *